×
Copyright © Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Presiden Datang Sendiri ke Desa Kecil di Nganjuk , Ini Janji Yang Ia Tepati Untuk Perempuan Buruh Yang Dibunuh 33 Tahun Lalu Tanpa Keadilan

PUANG IMRAN (DIRUT/PEMRED)
18.5.26, 18 Mei WIB Last Updated 2026-05-18T03:17:45Z

LP-RINEWS.COM -- Sabtu pagi, 16 Mei 2026. Di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, sekitar 7.000 buruh dari berbagai penjuru Jawa Timur sudah berkerumun sejak pagi. Mereka datang dari Surabaya, Mojokerto, Jombang, dan kota-kota lain di sekitar Nganjuk. Ini bukan acara kenegaraan di ibu kota. Ini adalah sebuah desa kecil di pedalaman Jawa Timur, tempat seorang perempuan buruh dilahirkan.

Dan hari itu, seorang presiden datang untuk menepati janjinya.


"Bismillahirrahmanirrahim. Pada pagi hari ini, Sabtu, 16 Mei 2026, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur," ucap Presiden Prabowo Subianto dalam peresmian yang dipantau dari YouTube Sekretariat Presiden.


Prasasti ditandatangani. Museum resmi dibuka.


Nama perempuan yang namanya terpampang di museum itu adalah Marsinah. Lahir di desa yang sama, 10 April 1969. Hilang pada malam 5 Mei 1993. Ditemukan tewas mengenaskan di Nganjuk empat hari kemudian. Berdasarkan hasil autopsi, ia meninggal pada 8 Mei 1993 akibat penganiayaan berat. Para pelakunya tidak pernah diadili. Kasusnya hingga hari ini belum tuntas.


Tapi Marsinah tidak dilupakan. Ia justru semakin dikenang.


Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto menetapkan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Dan hari itu di Nganjuk, Prabowo menceritakan sendiri bagaimana janji itu bermula. "Saya mendapat kehormatan untuk jadikan beliau sebagai pahlawan nasional dan waktu itu mereka minta, Bapak harus resmikan Museum Marsinah di Nganjuk. Baik, saya datang," kata Prabowo.


Sebelum membacakan kata peresmian, Prabowo tidak langsung ke podium. Ia terlebih dahulu mengelilingi museum secara langsung. Presiden melihat jejak kehidupan dan barang-barang peninggalan Marsinah yang masih dipertahankan seperti semula, termasuk kamar Marsinah yang tetap dijaga keasliannya sebagai pengingat atas keberanian dan pengorbanannya.


Prabowo hadir didampingi oleh kakak dan adik kandung Marsinah, serta Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea, yang menjadi salah satu penggerak utama di balik pembangunan museum ini.


Siapa sebenarnya Marsinah?


Ia hanya lulusan SLTA. Anak dari pasangan Astin dan Sumini di Nglundo, Nganjuk. Punya kakak perempuan bernama Marsini dan adik perempuan bernama Wijati. Pada 1989, ia merantau ke Surabaya, tinggal bersama sang kakak, dan bekerja di berbagai tempat sebelum akhirnya menjadi karyawan pabrik arloji PT Catur Putra Surya (CPS) di Sidoarjo.


Dari pabrik arloji inilah sejarah dimulai.


Ketika perusahaan tidak menerapkan upah minimum dan tidak mengakui otonomi serikat buruh, Marsinah menjadi salah satu dari 15 perwakilan buruh yang bernegosiasi langsung dengan pihak manajemen. Pada 5 Mei 1993, sebanyak 13 buruh digiring ke Kodim Sidoarjo dan dipaksa mengundurkan diri. Mendengar kabar itu, Marsinah mendatangi Kodim untuk menanyakan nasib rekan-rekannya. Malam itu ia menghilang. Dan empat hari kemudian, jasadnya ditemukan.


Ia baru berusia 24 tahun.


Kematiannya memicu gelombang protes keras dari masyarakat sipil, aktivis buruh, dan organisasi hak asasi manusia di seluruh Indonesia. Atas keberaniannya, Marsinah dianugerahi penghargaan Yap Thiam Hien. Kisah hidupnya diangkat ke berbagai karya sastra, teater, dan film. Setiap tanggal 1 Mei, nama Marsinah selalu disebut dalam peringatan Hari Buruh Internasional.


Kini, di tanah kelahirannya, museum itu berdiri. Museum Marsinah dibangun di kawasan rumah masa kecilnya, dirancang sebagai ruang memorial perjuangan buruh, sekaligus tempat penyimpanan arsip dan barang pribadi miliknya. Di bagian belakang museum tersedia rumah singgah gratis bagi peziarah yang datang dari luar daerah, dengan maksimal menginap satu malam. Museum akan dibuka untuk umum mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB, tujuh hari setelah peresmian, di bawah pengelolaan Yayasan KSPSI.


Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan bahwa negara harus hadir untuk rakyat kecil. "Buruh adalah anak-anak bangsa. Petani adalah anak bangsa. Nelayan anak bangsa. Semuanya, para pemimpin, para politisi, para birokrat hanya petugas, hanya penerima mandat," tegasnya.


Tiga puluh tiga tahun sudah berlalu sejak malam Marsinah menghilang. Kasusnya belum selesai. Keadilan untuknya belum tuntas. Tapi di Desa Nglundo hari itu, di hadapan 7.000 buruh yang datang dari seantero Jawa Timur, nama perempuan itu akhirnya diucapkan oleh seorang presiden di tanah tempat ia lahir — bukan sebagai nama korban, tapi sebagai nama pahlawan.

  • Presiden Datang Sendiri ke Desa Kecil di Nganjuk , Ini Janji Yang Ia Tepati Untuk Perempuan Buruh Yang Dibunuh 33 Tahun Lalu Tanpa Keadilan
  • 0